Ungkapan Tabir
biarlah rasa itu ada padamu
ada baiknya pula untukku
ia kan datang mendekap dihatimu
aku bangga padamu
lebih baik tak terlihat
namun dapat kurasakan
dibandingkan nyata
namun hambar bagaikan tiada rasa
tetaplah pada derap langkahmu
kian melangkah semakin menjauh
ingatlah. . .
akan ada topan dan beliung
serta hantaman kaki-kaki langit
yang hempaskanmu kemuka bumi
masihkah kau melangkah. . .
inilah aku dengan segala kekuranganku
saat semua itu datang
oleh Teja Windana pada 16 Oktober 2009 pukul 1:53 ·
aku berucap kepada kertas
tentang semua fikiranku
misteri angan tertumpah
saat malam memikirkanmu
keluhanmu menyerupai badai guntur
yang menghanguskan seluruh auraku
wajahmu seakan tak berwarna
saat kucoba hapuskan semua resahmu
kucoba bangunkan sang fajar
agar terbit indahmu saat mentari berseri
warnamu kan seindah pelangi
saat kau mulai mengerti aku
Senyuman
oleh Teja Windana pada 22 Oktober 2010 pukul 12:29 ·
Aku dihampiri oleh wajah manis
lalu duduk menawarkan senyuman
masa kemasa. . .
wajah itu kian kehilangan warna
kenapa hambar. . .
aku seperti berjalan diatas daun-daun kering
yang jatuh dari senyum-senyum itu. . .
aku jenuh . . .
jenuh berjalan diantara senyum-senyum itu. . .
senyum yang jatuh dan mengering
di labirin senyum-senyum biru
Pengantar Tidur
oleh Teja Windana pada 17 April 2012 pukul 21:09 ·
Sayang. . .
Saat tiba sunyi malam
membawamu mulai memejamkan mata. . .
bayangmu tak pernah sedikitpun lepas dari fikiranku. . .
Malam memang bisa berlalu sayang. . .
tapi jangan biarkan berlalu lirih kecil dari sudut ruang ini
yang kuceritakan pada nurani. . .
yakinkan pada rinai hujan bahwa kau milikku . . .
hanya aku. . .
23.01
02.02.12
Ungkapan Tabir
biarlah rasa itu ada padamu
ada baiknya pula untukku
ia kan datang mendekap dihatimu
aku bangga padamu
lebih baik tak terlihat
namun dapat kurasakan
dibandingkan nyata
namun hambar bagaikan tiada rasa
tetaplah pada derap langkahmu
kian melangkah semakin menjauh
ingatlah. . .
akan ada topan dan beliung
serta hantaman kaki-kaki langit
yang hempaskanmu kemuka bumi
masihkah kau melangkah. . .
inilah aku dengan segala kekuranganku
saat semua itu datang
oleh Teja Windana pada 16 Oktober 2009 pukul 1:53 ·
aku berucap kepada kertas
tentang semua fikiranku
misteri angan tertumpah
saat malam memikirkanmu
keluhanmu menyerupai badai guntur
yang menghanguskan seluruh auraku
wajahmu seakan tak berwarna
saat kucoba hapuskan semua resahmu
kucoba bangunkan sang fajar
agar terbit indahmu saat mentari berseri
warnamu kan seindah pelangi
saat kau mulai mengerti aku
tentang semua fikiranku
misteri angan tertumpah
saat malam memikirkanmu
keluhanmu menyerupai badai guntur
yang menghanguskan seluruh auraku
wajahmu seakan tak berwarna
saat kucoba hapuskan semua resahmu
kucoba bangunkan sang fajar
agar terbit indahmu saat mentari berseri
warnamu kan seindah pelangi
saat kau mulai mengerti aku
Senyuman
oleh Teja Windana pada 22 Oktober 2010 pukul 12:29 ·
Aku dihampiri oleh wajah manis
lalu duduk menawarkan senyuman
masa kemasa. . .
wajah itu kian kehilangan warna
kenapa hambar. . .
aku seperti berjalan diatas daun-daun kering
yang jatuh dari senyum-senyum itu. . .
aku jenuh . . .
jenuh berjalan diantara senyum-senyum itu. . .
senyum yang jatuh dan mengering
di labirin senyum-senyum biru
Pengantar Tidur
oleh Teja Windana pada 17 April 2012 pukul 21:09 ·
Sayang. . .
Saat tiba sunyi malam
membawamu mulai memejamkan mata. . .
bayangmu tak pernah sedikitpun lepas dari fikiranku. . .
Malam memang bisa berlalu sayang. . .
tapi jangan biarkan berlalu lirih kecil dari sudut ruang ini
yang kuceritakan pada nurani. . .
yakinkan pada rinai hujan bahwa kau milikku . . .
hanya aku. . .
23.01
02.02.12